CTS Network

CTS Network

Evaluasi Keselamatan Kerja Scaffolding Proyek Gedung di Surabaya

oleh CTS Network — Kamis, 21 Mei 2026 dalam Keamanan dan Keselamatan · 5 min baca

Evaluasi keselamatan kerja scaffolding proyek gedung di Surabaya. Analisis standar, risiko, dan praktik terbaik untuk mencegah kecelakaan ke

Evaluasi Keselamatan Kerja Scaffolding Proyek Gedung di Surabaya

Proyek pembangunan gedung di kota-kota besar seperti Surabaya senantiasa dihadapkan pada berbagai tantangan keselamatan kerja. Salah satu elemen krusial yang seringkali menjadi sumber potensi bahaya adalah penggunaan scaffolding. Struktur sementara ini sangat vital untuk akses pekerja dan material ke ketinggian, namun jika tidak dikelola dengan baik, dapat berujung pada insiden serius. Artikel ini akan mengupas secara mendalam evaluasi keselamatan kerja penggunaan scaffolding pada proyek gedung di Surabaya, dengan fokus pada penerapan standar, identifikasi risiko, dan praktik mitigasi yang efektif.

Identifikasi Risiko Struktural dan Operasional Scaffolding

Penggunaan scaffolding yang tidak memadai atau tidak sesuai standar dapat menimbulkan berbagai risiko, baik dari sisi struktural maupun operasional. Di Surabaya, dengan tingginya intensitas pembangunan gedung, pemahaman mendalam terhadap potensi bahaya ini menjadi kunci pencegahan kecelakaan.

Risiko Struktural

  • Beban Berlebih (Overloading): Scaffolding dirancang untuk menahan beban tertentu. Pelanggaran terhadap kapasitas beban maksimum, baik karena penumpukan material yang berlebihan maupun jumlah pekerja yang melebihi kapasitas, dapat menyebabkan kegagalan struktural.
  • Desain dan Pemasangan yang Tidak Sesuai: Pemasangan scaffolding yang tidak mengikuti spesifikasi teknis, termasuk penggunaan komponen yang tidak standar atau tidak kompatibel, serta kurangnya pengamanan pada sambungan, sangat berisiko.
  • Kondisi Tanah dan Pondasi yang Tidak Stabil: Scaffolding harus didirikan di atas permukaan yang rata dan stabil. Kondisi tanah yang buruk, seperti tanah lunak atau miring, tanpa adanya perataan atau pondasi yang memadai, dapat menyebabkan scaffolding ambruk.
  • Faktor Lingkungan: Angin kencang, hujan deras, atau getaran dari aktivitas konstruksi lain dapat mempengaruhi stabilitas scaffolding, terutama pada struktur yang tinggi dan ramping.

Risiko Operasional

  • Akses dan Pergerakan Pekerja: Lorong kerja yang sempit, lantai kerja yang licin, atau tidak adanya pegangan tangan (handrail) yang memadai dapat meningkatkan risiko terpeleset dan jatuh.
  • Penanganan Material yang Tidak Aman: Pelemparan material dari satu tingkat ke tingkat lain, atau penggunaan metode pengangkatan material yang tidak sesuai standar, dapat membahayakan pekerja di bawahnya.
  • Kurangnya Alat Pelindung Diri (APD): Pekerja yang tidak menggunakan APD yang sesuai, seperti helm, sepatu keselamatan, dan harness pengaman saat bekerja di ketinggian, berisiko lebih tinggi mengalami cedera serius.
  • Kerusakan Akibat Aktivitas Lain: Tabrakan dengan alat berat, atau kerusakan yang tidak disengaja akibat aktivitas konstruksi lain, dapat melemahkan integritas scaffolding.

Penerapan Standar Keselamatan Kerja Scaffolding di Proyek Gedung Surabaya

Untuk memitigasi risiko-risiko tersebut, penerapan standar keselamatan kerja yang ketat menjadi keharusan. Di Indonesia, standar yang relevan mencakup peraturan perundang-undangan K3 dan standar teknis yang diadopsi dari badan internasional atau dikembangkan secara nasional.

Standar Nasional Indonesia (SNI) dan Regulasi Terkait

Meskipun belum ada SNI tunggal yang secara komprehensif mengatur scaffolding, prinsip-prinsip keselamatan kerja diatur dalam berbagai peraturan, termasuk Peraturan Menteri Tenaga Kerja mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bangunan. Secara umum, praktik terbaik mengacu pada panduan dari standar internasional seperti:

  • OSHA (Occupational Safety and Health Administration) Standards: Standar OSHA memberikan panduan detail mengenai desain, pemasangan, penggunaan, dan inspeksi scaffolding.
  • BS EN 12811 Series: Seri standar Eropa ini memberikan persyaratan kinerja untuk pekerjaan perancah (scaffolding).

Dalam konteks proyek di Surabaya, kontraktor wajib memastikan bahwa seluruh aspek pemasangan dan penggunaan scaffolding memenuhi persyaratan teknis dan keselamatan yang berlaku. Hal ini meliputi:

  1. Perencanaan dan Desain: Scaffolding harus dirancang oleh personel yang kompeten dan sesuai dengan beban kerja yang diharapkan.
  2. Pemilihan Material: Penggunaan komponen scaffolding yang berkualitas dan teruji, seperti pipa baja, sambungan, dan papan lantai kerja.
  3. Pemasangan (Erection): Pemasangan harus dilakukan oleh tim yang terlatih di bawah pengawasan supervisor yang kompeten.
  4. Inspeksi Rutin: Scaffolding harus diinspeksi secara berkala, terutama setelah terjadi perubahan cuaca ekstrem, atau setelah terjadi insiden, sebelum digunakan kembali.
  5. Penggunaan yang Aman: Pembatasan jumlah pekerja dan material di atas scaffolding, serta penggunaan APD yang lengkap.

Studi Kasus: Temuan Lapangan Proyek Gedung X, Surabaya

Sebuah studi kasus pada proyek gedung bertingkat di Surabaya mengidentifikasi beberapa temuan signifikan terkait keselamatan scaffolding:

Area Penilaian Temuan Potensi Risiko Tindakan Korektif
Pondasi Scaffolding Beberapa unit scaffolding menggunakan balok kayu tidak rata sebagai alas. Ketidakstabilan struktur, ambruk. Perataan permukaan tanah, penggunaan alas baja yang stabil.
Koneksi dan Sambungan Penggunaan klem yang tidak sesuai spesifikasi pada beberapa sambungan pipa. Terlepasnya komponen, keruntuhan parsial. Penggantian klem dengan yang bersertifikasi dan sesuai standar.
Lantai Kerja Terdapat celah yang terlalu lebar antar papan lantai kerja di beberapa area. Jatuh benda atau pekerja melalui celah. Penyesuaian pemasangan papan lantai kerja agar rapat.
Pelindung Samping (Guardrails) Beberapa bagian guardrail terpasang tidak kokoh atau tidak lengkap. Risiko jatuh pekerja dari ketinggian. Perbaikan dan penguatan seluruh guardrail sesuai standar.

Data dari proyek ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap detail teknis pemasangan sangat krusial. Dari 20 titik inspeksi, ditemukan ketidaksesuaian pada 7 titik (35%), yang mengindikasikan perlunya peningkatan pengawasan dan pelatihan.

Praktik Terbaik dan Rekomendasi untuk Proyek di Surabaya

Berdasarkan evaluasi dan studi kasus, beberapa praktik terbaik dapat diadopsi untuk meningkatkan keselamatan kerja scaffolding di proyek-proyek gedung di Surabaya:

  • Pelatihan Berkelanjutan: Pastikan semua pekerja yang terlibat dalam perakitan, pembongkaran, dan penggunaan scaffolding mendapatkan pelatihan yang memadai dan diperbaharui secara berkala.
  • Pengawasan yang Ketat: Bentuk tim pengawas K3 yang didedikasikan untuk memantau secara langsung setiap tahapan pemasangan dan penggunaan scaffolding.
  • Sistem Izin Kerja (Permit to Work): Terapkan sistem izin kerja untuk aktivitas kritis seperti perakitan scaffolding, terutama pada ketinggian atau kondisi yang kompleks.
  • Manajemen Perubahan: Setiap modifikasi pada desain atau struktur scaffolding harus melalui proses persetujuan formal dan dievaluasi dampaknya terhadap keselamatan.
  • Audit Keselamatan Berkala: Lakukan audit keselamatan independen secara berkala untuk menilai kepatuhan terhadap standar dan mengidentifikasi area yang perlu perbaikan.
  • Teknologi Pemantauan: Pertimbangkan penggunaan teknologi seperti sensor beban atau sistem pemantauan pergerakan untuk scaffolding yang sangat tinggi atau kompleks.

Keselamatan kerja pada penggunaan scaffolding bukan hanya tanggung jawab kontraktor utama, tetapi juga melibatkan subkontraktor, pengawas, dan setiap pekerja di lapangan. Dengan komitmen bersama terhadap standar, identifikasi risiko yang proaktif, dan penerapan praktik terbaik, proyek-proyek gedung di Surabaya dapat meminimalkan potensi kecelakaan dan memastikan lingkungan kerja yang aman bagi semua pihak.



Tags